Jepang dan Spanyol: Dua Pendekatan Berbeda dalam Kebijakan Donor Organ
Studi komparatif antara kebijakan donasi organ di Spanyol, yang memiliki tingkat donasi tertinggi di dunia, dengan Jepang yang menghadapi tantangan budaya dan hukum yang unik.

Kebutuhan akan organ untuk transplantasi adalah krisis kesehatan global. Di seluruh dunia, daftar tunggu pasien terus bertambah panjang, sementara jumlah organ yang tersedia masih jauh dari cukup. Namun, respons setiap negara terhadap krisis ini sangat bervariasi, dibentuk oleh hukum, budaya, dan infrastruktur sistem kesehatan mereka. Tidak ada dua negara yang menggambarkan perbedaan pendekatan ini secara lebih jelas selain Spanyol dan Jepang.
Di satu sisi, Spanyol berdiri sebagai “standar emas” global, secara konsisten mencatatkan tingkat donasi organ per kapita tertinggi di dunia selama beberapa dekade. Di sisi lain, Jepang, sebuah negara maju dengan teknologi medis canggih, menghadapi tantangan unik yang mengakibatkan salah satu tingkat donasi terendah di antara negara-negara industri. Studi komparatif antara kedua negara ini tidak hanya menyoroti perbedaan kebijakan, tetapi juga mengungkap betapa rumitnya interaksi antara hukum, budaya, dan praktik medis dalam tindakan donasi yang menyelamatkan nyawa.
Spanyol: “Model Spanyol” dan Sistem yang Proaktif
Keberhasilan Spanyol bukanlah suatu kebetulan. Ini adalah hasil dari sistem yang dirancang dengan cermat dan diterapkan secara konsisten, yang dikenal sebagai “Model Spanyol”. Fondasinya terletak pada dua pilar utama: kebijakan hukum yang mendukung dan infrastruktur profesional yang tak tertandingi.
1. Kebijakan Hukum: Opt-Out (Persetujuan Presumtif)
Sejak tahun 1979, Spanyol telah menerapkan sistem Opt-Out atau persetujuan presumtif. Secara hukum, ini berarti setiap warga negara secara otomatis dianggap bersedia menjadi donor organ setelah meninggal, kecuali mereka secara aktif menyatakan penolakan selama hidup mereka. Kebijakan ini mengubah titik awal psikologis: donasi dianggap sebagai norma sosial dan tindakan solidaritas, bukan pilihan yang harus dibuat secara proaktif. Beban tindakan beralih dari mereka yang ingin berdonasi kepada mereka yang menolak.
2. Infrastruktur Profesional: Kunci Sebenarnya
Meskipun hukum opt-out menyediakan kerangka kerja yang kuat, para ahli setuju bahwa kunci sebenarnya dari “Model Spanyol” adalah infrastrukturnya yang luar biasa, yang dikelola oleh Organización Nacional de Trasplantes (ONT).
Koordinator Transplantasi di Setiap Rumah Sakit: Inovasi terbesar Spanyol adalah menempatkan koordinator transplantasi—biasanya dokter perawatan intensif (ICU) yang sangat terlatih—di setiap rumah sakit besar. Mereka bukanlah administrator, melainkan profesional medis yang tugasnya meliputi:
Secara proaktif mengidentifikasi pasien di ICU yang berpotensi menjadi donor.
Mengelola proses medis yang kompleks untuk memastikan organ tetap dalam kondisi optimal.
Melakukan pendekatan kepada keluarga yang sedang berduka dengan empati dan keahlian komunikasi yang terlatih.
Pendekatan Keluarga yang Humanis: Di sinilah letak kejeniusan model ini. Meskipun hukumnya adalah opt-out, dalam praktiknya, keluarga selalu diajak berkonsultasi dan dimintai persetujuan akhir. Koordinator yang terlatih mendekati keluarga bukan dengan pertanyaan hukum yang dingin, tetapi dengan percakapan penuh empati tentang kesempatan untuk menyelamatkan nyawa orang lain dari tragedi yang mereka alami. Karena donasi telah menjadi norma sosial dan kepercayaan terhadap sistem medis sangat tinggi, tingkat penolakan dari keluarga di Spanyol sangat rendah.
Hasilnya adalah sebuah mesin yang bekerja dengan sangat efisien dan humanis, mengubah setiap potensi donasi menjadi kenyataan yang menyelamatkan nyawa.
Jepang: Perjuangan Melawan Hambatan Budaya dan Hukum
Kisah Jepang sangat kontras. Meskipun memiliki salah satu sistem kesehatan tercanggih di dunia, tingkat donasi organ dari donor yang meninggal secara historis sangat rendah. Ini disebabkan oleh kombinasi hambatan budaya, sejarah, dan kerangka hukum yang sangat berhati-hati.
1. Kebijakan Hukum: Opt-In yang Ketat dan Beban Keluarga
Jepang menggunakan sistem Opt-In yang ketat. Awalnya, donasi hanya dimungkinkan jika almarhum memiliki kartu donor tertulis yang menyatakan persetujuan eksplisit, dan keluarga juga memberikan izin. Tanpa kartu, beban keputusan sepenuhnya jatuh pada keluarga yang sedang berduka, sebuah beban yang seringkali dianggap terlalu berat secara emosional dan budaya.
2. Hambatan Budaya dan Sejarah yang Mendalam
Pandangan tentang Tubuh dan Kematian: Pandangan tradisional Shinto dan Buddha di Jepang sangat menekankan pentingnya menjaga keutuhan tubuh setelah kematian. Konsep “kematian otak” sebagai akhir dari kehidupan sulit diterima secara luas oleh masyarakat, yang seringkali mengasosiasikan kematian dengan berhentinya detak jantung. Mengambil organ dari tubuh yang jantungnya masih berdetak (meskipun otaknya telah mati secara permanen) dianggap sebagai tindakan yang mengganggu ketenangan almarhum.
Hukum Transplantasi Organ 1997: Undang-undang pertama yang secara hukum mengakui kematian otak sangatlah restriktif. Selain memerlukan kartu donor dan persetujuan keluarga, undang-undang ini juga melarang donasi organ dari anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Reformasi Hukum 2010: Menyadari krisis ini, Jepang merevisi undang-undangnya pada tahun 2010. Perubahan ini merupakan langkah besar:
Memungkinkan donasi organ berdasarkan persetujuan keluarga saja, bahkan jika almarhum tidak memiliki kartu donor (selama mereka tidak pernah menyatakan penolakan).
Mengizinkan anak-anak di bawah 15 tahun untuk menjadi donor.
Meskipun reformasi ini secara signifikan meningkatkan jumlah donasi, angka-angkanya masih jauh di bawah negara-negara Barat. Budaya “menghindari masalah” (meiwaku) dan keengganan untuk membebani keluarga dengan keputusan besar seperti itu tetap menjadi penghalang yang kuat.
Analisis Komparatif: Mengapa Begitu Berbeda?
Aspek Spanyol Jepang
Sistem Hukum Opt-Out (Persetujuan Presumtif) Opt-In (Persetujuan Eksplisit) Infrastruktur Sangat Proaktif: Koordinator transplantasi profesional di setiap rumah sakit. Relatif Pasif: Bergantung pada inisiatif dokter yang tidak terspesialisasi dan keluarga. Peran Keluarga Didukung dan dibimbing oleh profesional dalam proses pengambilan keputusan. Dibebani dengan keputusan akhir yang berat secara emosional dan budaya. Konsep Kematian Menerima kematian otak sebagai akhir kehidupan secara luas. Penerimaan kematian otak masih berkembang dan menghadapi hambatan budaya. Norma Sosial Donasi adalah tindakan solidaritas sosial dan norma. Donasi adalah keputusan pribadi dan keluarga yang sangat sensitif.
Pelajaran dari Dua Dunia
Perbandingan antara Spanyol dan Jepang memberikan pelajaran yang sangat berharga. Perbedaan drastis dalam tingkat donasi tidak hanya disebabkan oleh undang-undang “Opt-In” versus “Opt-Out”. Faktor yang lebih menentukan adalah keberadaan sistem yang terorganisir dan proaktif yang dirancang untuk mendukung proses donasi di setiap langkahnya.
Keberhasilan Spanyol menunjukkan bahwa kebijakan hukum yang suportif, ketika dipadukan dengan investasi berkelanjutan dalam infrastruktur profesional dan pembangunan kepercayaan publik, dapat menciptakan budaya donasi yang luar biasa. Sementara itu, pengalaman Jepang menyoroti bahwa bahkan reformasi hukum yang paling signifikan pun akan bergerak lambat jika berhadapan dengan hambatan budaya yang telah mengakar selama berabad-abad.
Pada akhirnya, untuk mengatasi krisis kekurangan organ global, negara-negara di dunia dapat belajar dari kedua contoh ini: membangun infrastruktur yang kuat seperti Spanyol sambil dengan sabar dan hormat menavigasi lanskap budaya yang unik, seperti yang terus dilakukan oleh Jepang.


Komentar